Sepanjang Jantung Kota Bogor

Akan ada banyak cerita bila kita jalan-jalan di Kota Bogor. Mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, belanja sampai adventural ada di sini. Kota yang dikenal dengan udara yang sejuk ini juga akan memanjakan pewisata dengan kuliner-kuliner khasnya. Tak kan habis-habis membahas nyamannya berwisata di kota kijang ini. Sebaiknya saya langsung berbagi.

Boring di kosan, bersama seorang teman saya ambil kamera dan langsung menuju tempat wisata yang dituju. Kali ini sasaran kami adalah wisata sejarah dan tempat ibadah Kota Bogor. Siang hari Minggu di  Bogor kita harus jeli melihat waktu agar tidak terkena macet, jadilah kami berangkat pukul setengah satu siang. Untungnya udara dan cuaca sedang bersahabat.

Tujuan pertama adalah Musium Perjuangan. Musium ini terletak di jantung Kota Bogor. Berseberangan jalan dengan Pasar Grosir Bogor (PGB). Akses menuju ke musium ini sangat mudah. Jika dari arah Dramaga atau Kampus IPB Dramaga tinggal naik angkot 02 atau 03. Jika dari arah Baranangsiang tinggal naik angkot 03 tapi perlu sedikit jalan kaki dari pertigaan jembatan merah ke arah kiri. 


Hanya dengan membayar tiket Rp.3000 kita bisa menikmati perjalanan perjuangan para pahlawan Kota Bogor. Di lantai 1 terlihat banyak senjata yang dulu digunakan untuk berperang. Terlihat berjenis-jenis pistol, senapan, meriam, tombak, keris, kujang dll. Kujang adalah senjata tajam khas Bogor mirip keris. Juga dipajang mata uang jaman dulu. Di lantai 2 terlihat arsip-arsip jaman kemerdekaan seperti surat kabar dan maklumat presiden, terlihat juga pakaian-pakaian yang dulu dipakai para pejuang lengkap dengan topi baja dan  sabuk, ada juga mesin tik dan telepon yang membuat kita berfikir bagaimana cara menggunakannya.


Selain benda-benda sejarah kita juga akan semakin mengenal pahlawan-pahlawan masa perjuangan kemerdekaan. Rupa dan nama mereka banyak dipajang di dinding musium. Begitu juga dengan foto-foto masa kemerdekaan dulu. Saya jadi tau bahwa Kawasan Taman Topi atau Stasiun Kereta Bogor sekarang dulunya adalah tempat pertempuran melawan jepang yang dipimpin oleh Kapten Muslihat. Pantas di sana sekarang berdiri patung Kapten Mustihat. Hal mengejutkan lagi ternyata Margonda adalah nama pahlawan perjuangan, yang sekarang ini Margonda di kenal tempat nongkrong di Depok. 

Tidak usah takut ketinggalan waktu sholat, karna di sini juga ada mushala. Selama berada di sana, tidak begitu banyak pengunjung yang terlihat. Saatnya menyadarkan diri sendiri pentingnya mengenal sejarah, karna bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. 






Hari masih siang, kami pun melanjutkan berjalan kaki menuju arah istana Bogor. Di sebelah kiri jalan kami mempir menikmati Katedral Bogor. I've never this close before. Berwarna putih menjulang dengan patung Bunda maria di tengah atas bangunan. Asik memandangi sekitar, mata saya menangkap sesuatu. di sebelah katedral terlihat bangunan menyerupai masjid. Hal yang menyenangkan untuk dilihat dan dirasai. Betapa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk hidup harmonis.













Kami berjalan lagi, kali ini tujuan kami Gereja Protestan Zebaoth. Gereja ini diapit oleh Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Sering bolak balik kawasan ini tapi baru kali ini saya menikmati indahnya Gereja ini. Sayang tidak ada acara kebaktian siang itu, jadi kami tidak bisa masuk ke dalam. Dinding bangunan berwarna coklat dan krem, berasal dari  tehel coklat-krem yang ditata, indah sekali. Kembali saat foto-foto mata saya melihat pemandangan indah yang lain. Terlihat atap mesjid berada di balik bangunan samping gereja. Mungkin mesjid istana or something. Pastinya tiap adzan akan terdengar sampai gereja dan sebaliknya. May I think that It will not shrink their faith each other













Beranjak sore, kami telusuri jalan trotoar sepanjang pagar Kebun Raya Bogor. Someday, saya ingin dilukis oleh mereka, ya para pelukis yang memajang lukisan di sana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Operasi Tulang Hidung Bengkok

A Long Road to Get Drivers License in NC

Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas